PM Canada Dan Komunitas Ahmadiyah Canada

Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiaku. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2008

Pesona Indonesia

Wisata Religi Kota Semarang

Written by dahan
Wednesday, 05 December 2007


Gbr. Masjid Agung Semarang

1. KLENTENG GEDUNG BATU

Klenteng Gedung Batu atau Sam Poo Kong adalah tempat yang unik karena tempat peribadatan bagi umat Tri Dharma tetapi yang datang berziarah pemeluk agama lain, keberadaan klenteng ini tidak bisa dilepaskan dari sosok pelaut besar ,

Laksamana Cheng Hoo yang hidup pada zaman kaisar ketiga Dinasti Ming yaitu Zhu De, sang laksamana kemudian mendapatkan gelar Sam Poo Tay Djien, untuk menghormatinya didirikan tempat ibadah klenteng Gedung Batu atau disebut juga Sam Poo Kong.

Setiap tahun di klenteng ini diperingati Pendaratan Laksamana Cheng Ho, yang untuk tahun 2005 diperingati secara besar-besaran dengan tujuan untuk melestarikan kebudayaan sekaligus menarik wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Perayaan dilakukan dengan menggelar ritual mengarak patung Sam Poo Tay Djien dari kelenteng Tay Kek Sie di gang Lombok ke gedung Batu ke klenteng Gedung Batu.

2. GEREJA BLENDUK

Merupakan bangunan yang memiliki Gaya arsitektur Phantheon yang dibangun pada tahun 1750 dan dipugar tahun 1894 oleh HPA. De Widle dan Westmas. Gereja tersebut terletak di jalan Letjen Suprapto No. 30, nama asli dari gereja tersebut adalah Gereja Emmanuel, tetapi karena bentuknya yang berkubah cembung sehingga gereja ini dikenal dengan nama Gereja Blenduk. Yang menarik dari gereja ini adalah interior dan susunan Orgel masih asli sejak pendeta pertama Johanes Wihelkmus Semkar dari Tahun 1753-1760. Sebagai salah satu bangunan kuno di lingkungan Kota Lama bangunan ini bisa dikunjungi setiap hari.

3. VIHARA BUDDHAGAYA

Vihara yang dulu dikenal dengan nama Vihara Watugong, karena letaknya di daerah Watugong Semarang ini adalah vihara yang pertama di Indonesia yang berdiri pada tahun 1957. Atas prakarsa Po Soen Ko, saat ini telah dibangun Pagoda dengan ketinggian 45 m dengan nama Pagoda Avalokitesvara. Pagoda yang tertinggi di Indonesia ini memiliki tujuh lapis tingkat, yang didalamnya terdapat sebuah patung Budha raksasa yang bersemedi dan patung Dewi Kwan Im di dinding lantai pertama yang menghadap empat penjuru mata angin. Sering disebut pula sebagai Pagoda Metakaruna, dengan meta berarti cinta kasih dan karuna adalah kasing sayang, keduanya merupakan landasan pembentukan moralitas umat Budha.

4. VIHARA MAHAVIRA

Vihara yang dibangun mulai akhir tahun 2001 di atas lahan seluas 1.688 ha ini memiliki nama lengkap Vihara Mahavira Graha. Sering disebut-sebut pula sebagai vihara terbesar di Jawa Tengah, yang terdiri atas tujuh lantai, dan dengan keunikannya memiliki 88 arca Budha dalam posisi abayamudra dan 32 arca Avalokitesvara (Kwan Im) yang menghiasi sekeliling vihara. Selain untuk tempat beribadah, dimaksudkan pula sebagai tempat pendidikan calon bhiksu dari aliran Mahayana.

5. MASJID MENARA

Dinamakan mesjid Menara karena menara mesjid ini bentuknya seperti mercu suar, dan ini menjadi penanda untuk kawasan jalan Layur, mesjid menara didirikan oleh saudagar sekaligus ulama dari Yaman yang datang ke Semarang sambil berdagang namanya Abah Bani Hasyim, mesjid Menara didirikan pada tahun 1802, dengan menara ala mercu suar setinggi hampir 21 meter. Namun karena pernah tersambar petir maka tinggi menara kini tinggal 13 meter. Konon bentuk menara dengan kap bercorak Mongolia seperti itu hanya ada di mesjid-mesjid Malaysia.

6. MASJID AGUNG JAWA TENGAH (MAJT)

Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) berlokasi di Jalan Gajah Raya dan telah disremikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ditinjau dari segi arsitekturnya sungguh membanggakan, dengan bangunannya meneladani prinsip gugus model kluster dari Masjid Nabawi di Madinah. Bentuk penampilan arsitekturnya merupakan gubahan baru yang mengambil model dari tradisi masjid para wali dengan corak universal arsitektur Islam pada bangunan pusatnya dengan menonjolkan kubah utama yang dilengkapi dengan minaret runcing menjulang di keempat sisinya.

Masjid beserta fasilitas pendukungnya menempati tanah bandha Masjid Agung Semarang seluas 10 ha di Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang. Masjid itu mampu menampung jamaah lebih kurang 13.000 orang. Berdasarkan tata ruang, dalam bangunan masjid tersebut terdapat ruang shalat, tempat berwudhu, ruang kantor, ruang kursus dan pelatihan, ruang perpustakaan, ruang akad nikah dan auditorium.

.
Read More......

Jumat, 08 Februari 2008

Indonesiaku

Borobudur, Candi Budha Terbesar di Abad ke-9

Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati.

Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.

Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.

Bagian dasar Borobudur, disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu. Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka. Sementara, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.

Setiap tingkatan memiliki relief-relief indah yang menunjukkan betapa mahir pembuatnya. Relief itu akan terbaca secara runtut bila anda berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).

Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Karenanya, candi ini dapat dijadikan media edukasi bagi orang-orang yang ingin mempelajari ajaran Budha. YogYES mengajak anda untuk mengelilingi setiap lorong-lorong sempit di Borobudur agar dapat mengerti filosofi agama Budha. Atisha, seorang budhis asal India pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini.

Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut "The Lamp for the Path to Enlightenment" atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.

Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikitari rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Dasarnya adalah prasasti Kalkutta bertuliskan 'Amawa' berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi. Beberapa yang lain mengatakan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi.

Dengan segala kehebatan dan misteri yang ada, wajar bila banyak orang dari segala penjru dunia memasukkan Borobudur sebagai tempat yang harus dikunjungi dalam hidupnya. Selain menikmati candinya, anda juga bisa berkeliling ke desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo untuk melihat aktivitas warga membuat kerajinan. Anda juga bisa pergi ke puncak watu Kendil untuk dapat memandang panorama Borobudur dari atas. Tunggu apa lagi? Tak perlu khawatir gempa 27 Mei 2006, karena Borobudur tidak terkena dampaknya sama sekali.


Naskah: Yunanto Wiji Utomo
Photo: PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu-Boko
Peta & Artistik: Sutrisno

http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/candi/borobudur/
.
Read More......

Mau Lihat Pesawat Boeing Landing Di atas Mobil?